Showing posts with label ::Keuangan keLuarga::. Show all posts
Showing posts with label ::Keuangan keLuarga::. Show all posts

Saturday, 24 August 2013

Berkah Ramadhan : Usaha Untuk Memenuhi Panggilan-MU ke Baitullah


Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini menjadi kenangan tersendiri bagi kami. Ramadhan pertama kali saya seperti orang single :p alias kesendirian jauh dari suami dan anak.. juga merasakan indah dan syukurnya ketika dipertemukan kembali dengan suami plus anak,,dalam waktu yang cukup lama: 2,5 minggu. Alhamdulillah.. sesuatu banget ya,, suatu pertemuan bagi orang yang menjalin Long Distance Marriage. ^__^

Dan di bulan Ramadhan yang barokah ini, kami juga mengurusi bermacam administrasi kependudukan seperti biasanya. Kali ini ialah mengurus e-KTP yang akhirnyaaa,,setelah tepat setahun menunggu keluarlah surat dari Dukcapil. Dari Juli 2012-Juli 2013 akhir baru jadi. :D Selain itu, sebagai wujud syukur atas anugerah rezeki kepada kami, setelah Bapak bisa haji, dilanjutkan Ibu pada tahun 2016 nanti, akhirnya inilah saatnya kami ikut mendaftarkan diri sebagai calon jamaah haji. 


Berikut laporan dari kami, mengenai bermacam syarat dan ketentuan untuk mendaftar haji, agar ada gambaran dan mempermudah pembaca, bagi yang akan mendaftar. Semoga bermanfaat...

1.    Membuka tabungan haji di salah satu bank BPS-BPIH (Bank Penerima Setoran-Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji). Kemudian menabung sedikit demi sedikit, hingga akhirnya mencapai jumlah Rp 25.000.000. Ini adalah batasan yang ditetapkan Departemen Agama untuk dapat mendaftar antrian haji.

2.    Mendatangi Puskesmas dan melakukan tes kesehatan untuk calon jamaah haji. Hal ini diperlukan akrena menjadi salah satu syarat dari Depag untuk mendaftar haji. 

3.    Mendatangi Departemen Agama di kota tempat E-KTP kita terdaftar. Karena kami merupakan penduduk Magelang, akhirnya kami pun mendatangi Depag Kota Magelang. Menunjukkan bukti buku rekening bahwa saldo tabungan mencapai Rp 25juta. Juga membawa bukti asli: KTP, Akta Kelahiran, Ijazah Terakhir, Foto 4x6 dengan latar belakang putih dan menampakkan wajah 80% dari ukuran foto.

4.    Pegawai Departemen Agama akan mencatatnya dalam SISKOHAT dan akhirnya memberikan SPPH alias Surat Pendaftaran Pergi Haji.

5.    Membawa SPPH tersebut ke bank. Bank akan memproses SPPH tersebut, mendebet tabungan kita masuk ke rekening haji milik Departemen Agama. Bank akan memberikan bukti atas pendebetan tersebut, memberikannya ke kita dan kita akan meneruskannya ke Depag untuk dimasukkan ke SISKOHAT agar memperoleh nomor porsi.

6.    Membawa seluruh persyaratan kelengkapan ke Departemen Agama, untuk memberoleh nomor porsi haji. Adapun seluruh syarat tersebut ialah:
-          Bukti pendebetan dari Bank
-          Surat Kesehatan dari Puskesmas
-          Fotokopi tabungan haji 1 lembar
-          Fotokopi Kartu Keluarga 13 lembar
-          Fotokopi E-KTP 13 lembar
-          Fotokopi Ijazah terakhir/akta kelahiran/suat nikah/surat keterangan domisili 3 lembar
-          Dipersiapkan juga membawa foto 3x4 10 lembar latar belakang putih, menampakkan wajah 80%. Hanya untuk berjaga2 apabila kantor Departemen Agama di kotamu belom online SISKOHAT. Jika Kantor sudah online, mereka cukup melakukan foto langsung di kantor Depag dan menyimpannya dalam bentuk softcopy serta dilakukan pengambilan sidik jari.

7.    Setelah berkas lengkap dan diterima, kita hanya tinggal menunggu ketika antrian kita sudah saatnya akan berangkat. Jadi nomor kontak yang kita tulis di SPPH, juga alamatnya perlu diperhatikan ya. Berikan alamat/no hp yang tidak sering gonta ganti. Untuk mengantisipasi saja sih.. :)

8.    Antrian haji tiap propinsi dan tiap kota berbeda-beda. Tergantung berapa banyak porsi kursi yang diperoleh tiap kota juga berapa banyak masyarakat yang telah mendaftar. Semakin banyak yang mendaftar, semakin banyak pula antriannya. Sebagai perbandingan, tahun 2013 kami mendaftar di Kota Magelang, insya Allah diperkirakan akan sampai ke nomor porsi kami sekitar tahun 2023. Sedangkan unuk kota Yogyakarta, antrian disana sudah mencapai 13 tahun, jadi jika mendaftar tahun 2013, akan berakngkat sekitar 2026.

Oya, yang menjadi catatan, jika suatu saat ketika akan diberangkatkan, kita tidak bisa maka tidak dapat diwakilkan/digantikan. Ada dua opsi: mundur ke tahun berikutnya, atau mengambil uangnya kembali dan dikenai biaya administrasi 1%. 

Atau ketika kan berangkat, misalkan saya yang terdaftar di kota Magelang, kami meminta untuk diberangkatkan di Yogyakarta, karena kami bekerja di Yogyakarta (Amiinn.. :D) maka hal ini diperbolehkanan disebut “mutasi”.
Adapun syarat jika ingin melakukan pembatalan atau mutasi, bisa lihat di skema di bawah ini yaahh..klik aja gambarnya,,untuk memperbesar.. ^__^


Monday, 17 June 2013

Mengelola Keuangan Scara Bijaksana (^o^)b [Part 2]

Oke, ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya, tentang Mengelola Keuangan Scara Bijaksana (^o^)b hasil report dari kajian kemarin di kampus bersama Pak Ahmad Gozali. Juga ada tambahan info dari saia agar lebih lengkap, karena beliau hanya menjelaskan sepotong2. Untuk bagian kedua ini, saia lebih menekankan pada manajemen tabungan gaji untuk investasi. Mari kita simak lagi, semoga tulisan ini bermanfaat. =)

 

Bentuk Dana Cadangan
Ya, sangat disarankan (dan harus) setiap keluarga memiliki dana cadangan yang diendapkan. Sebagai jaga-jaga apabila ada keadan force majeur. Menurut banyak financial planner sih idealnya diendapkan sebesar 3x biaya pengeluaran bulanan. Namun keluarga kami, kami dari awal sepakat harus memiliki endapan dana cadangan sebesar 6x biaya pengeluaran bulanan. Semuanya bisa2 saja, tergantung seni keuangan tiap keluarga, namun paling minim 3x biaya bulanan ya.. Sehingga misal ada suatu kejadian, orang tua maupun keluarga sakit/meninggal, pencari nafkah dipecat/keluar kerja, atau wiraswasta yang terkena dampak krisis, dll, kita masih ada cadangan dana untuk membiayai itu semua dan masih ada “harapan hidup” untuk 3 bulan ke depan “tanpa bekerja”.

Mengelola Dana Sebagai Investasi
Setelah kita memiliki dana cadangan yang diendapkan tersebut, dan seiring waktu berjalan, ada tabungan berlebih dari dana cadangan, alangkah lebih baik untuk diinvestasikan. Karena jika hanya ditabung saja di rekening bank, maka tidak akan bisa melindungi nilai uang kita dari pengaruh inflasi.

 

Saya ilustrasikan dengan pelajaran Mankeu akuntansi ya,hehehe.. *mahasiswa akuntansi sejati neh,wkwkwk :
Tabungan : memberikan bunga 4%
Inflasi di Indonesia, sekitar : 6 – 6,5% *apalagi kan sekarang BBM naik, menjelang puasa, jd inflasi akan lebih tinggi
Nah, berarti, jika uang kita “dianggurkan” di rekening bank, maka uang kita akan tergerus nilainya sebesar: 6,5% - 4% = 2,5% *masih ingat kan pelajaran time value of money, dimana uang sekarang lebih bernilai dibanding uang yang sama di masa mendatang

Misal akhirnya uang tersebut didepositokan, dengan bunga deposito biasanya 6 – 8%, ambil saja angka 8% ya..
Tabungan deposito : 8%
Inflasi : 6,5%
Setidaknya, nilai uang kita di masa depan terlindungi, bahkan ada tambahan return sebeasr 8% - 6,5% yaitu 1,5%

 

Langkah Memulai Investasi “Pasif”
Ya, yang Pak Ahmad Gozali terangkan disini, hanya sebatas suatu investasi yang tak langsung berhubungan dengan sektor riil, hanya sebatas bermain di deposito, saham, reksadana, dkk.

Tapi yang saya tekankan disini, terserah kita mau investasi sektor riil atau bukan, yang penting harus dipahami bahwa setiap keputusan pasti ada risikonya. Mengutip pelajaran Manajemen Keuangan, tentang  risk return trade off, bahwa high risk-high return dan slow risk-slow return. Jadi ya, bijak dan hati2lah dalam berinvestasi. Kadang orang sudah tergiur akan banyak motivator tentang beli properti gratis, berkebun emas, asuransi unit-link, dll yang hanya melihat dari sisi manisnya, kurang mempelajari dari aspek risikonya. Banyak yang sudah jatuh ke jeratan hutang, stres dan kekecewaan akibat kurang mempelajari lebih mendalam. :’(
**Back to the topic, malah ngalor ngidul sayah ^^,

 

Tentukan Tujuan Investasi
Yup, investasi bukan semata untuk mendapatkan return of rate, tapi juga harus tahu tujuan yang ingin kita capai dalam berinvestasi, sehingga bisa memilih dan memilah mana investasi yang cocok. Contoh tujuan investasi ialah: untuk dana pendidikan anak, dana pensiun, kepemilikan rumah/kendaraan, rencana waris, ibadah haji, dll. Nah setelah tahu tujuannya, barulah dipertimbangkan, mana saja instrumen investasi yang cocok untuk meencapai tujuan kita.

 

Sebagai contoh, dana pendidikan anak: anak sekarang umur berapa sih? Misal Almandaffa yang masih berusia < 2 tahun. Rencana investasi untuk membiayai masuk SD kelak. Artinya masih ada waktu sekitar 5 tahun untuk “menabung”, maka ambillah investasi jangka menengah. Investasi jangka menengah, diantaranya: emas, saham, reksadana pendapatan tetap.

Bermacam Jenis Investasi
Nah, setelah tahu tujuan investasi dan perkiraan kapan kebutuhan akan hal tersebut terjadi, selanjutnya kita menentukan mana instrumen yang tepat untuk mewujudkan tujuan kita tersebut. Adapun yang dijelaskan oleh Ahmad Gozali tentang tangga investasi, sebagai berikut:
Jangka panjang (high risk-high return) : reksa dana, saham, forex
Jangka menengah (high risk-high return) : tanah, properti, valas, forex, reksa dana pendapatan tetap
Jangka menengah (low risk-low return) : tabungan berjangka, deposito, emas, sukuk, asuransi investasi
Jangka pendek (low risk-low return) untuk dana cadangan : tabungan, deposito, emas

 

**kami sendiri memang belum menerapkan sepenuhnya, hanya setuju dengan investasi properti, tanah dan emas, karena ya,.. bagi kami masih ragu dengan investasi berupa reksa dana, forex, saham, deposito, dkk. Ya, silahkan googling sendiri aja ya, investasi tersebut berdasar hukum Islam ^^ ada beberapa poin yang perlu kehati-hatian karena tak murni bersih meski berembel syariah =) Pokoknya pelajari benar semua steps investasinya, dan keputusan kembali ke pribadi masing2.. saia hanya memaparkan.. ^.^

 

Mengenal Sekejap Asuransi
Akhir-akhir ini kata asuransi sudah tak asing di telinga kita. Banyak orang yang mengulasnya, banyak pula yang menawarkannya, sampai kadang tak enak menolaknya karena yang menawarkan adalah tetangga, sobat, bahkan kerabat. Hehe. Jadi, apa sih asuransi itu? Ya suatu instrumen keuangan, yang menjaga “sesuatu” yang kita asuransikan. Menjaga dalam hal ini, memberikan keringanan biaya jika ada hal yang terjadi pada “sesuatu” yang kita asuransikan tadi. Haha, bingung yak, maklum ini definisi ngayal dari pendapat pribadi, males googling cari tahu :p

 

Nah “sesuatu” yang diasuransikan, bisa seperti: Jiwa, Kesehatan, Kecelakaan, maupun Harta Benda. Yang perlu digarisbawahi ialah, jangan membeli produk asuransi berdasar emosional, tergiur aneka fasilitas/gambaran investasinya, atau karena tidak enak sama yang nawarin,hehe. Apakah benar, kita membutuhkan atau tidak. Pilihlah asuransi berdasar risiko, dan dari risiko tersebut apakah besar/kecil pengeluarannya.
 

Misal, saia mudah sakit, punya riwayat keluarga sakit a, b, c. Pernah pula sakit d, e, f. Berarti saia sudah jaga2 untuk mengambil asuransi. Namun, penyakit d, e, f itu ialah: pusing, batuk dan pilek. Apakah urgent? Iya, bolehlah, tapi ambil saja asuransi kesehatan yang biasa, atau jika sudah punya Askes, dirasa sudah cukup.
Contoh lain, misal punya rumah. Rumahnya terletak di dekat Gunung Merapi yang meletus 4 tahun sekali, berpotensi juga terkena gempa, dan jika terjadi kebakaran, mobil pemadam susah masuk komplek karena jalan sempit, dll. Semua yang menjadi risiko tsb, dipertimbangkan masak, untuk mengambil keputusan apakah akan membeli asuransi rumah/tidak.

 

Satu poin penting, kenalilah asuransimu! Apa2 saja yang akan ditanggung dan tidak ditanggung, dalam kondisi apa, seberapa banyak yang akan diterima, cara mengklaim bagaimana, berapa biaya premi asuransinya, jenis asuransinya: term life, whole life, unit link, cara dan penalty jika ingin berhenti di tengah jalan, dll. Sehingga nanti ketika sudah berjalan, tidak ada kekecewaan atau merasa ditipu oleh pihak asuransi.

 

Untuk asuransi jenis unit link, perlu diperhatikan :
-  Merupakan asuransi plus investasi.. bukan investasi plus asuransi!! Jadi investasi hanya side feature dari program asuransi
à tak maksimal memberikan return
-  Premi yang dibayar setiap bulan, ada bagian yang hangus. Yaitu selama 2-4 tahun pertama, alokasi dana untuk investasi minim karena dipotong untuk biaya akuisisi polis.
Jadi, jangan kaget, jika mendapat laporan tahunan pada tahun 2-4 dengan nilai investasi yang sangat kecil. Dan ingat, investasi ini juga tergantung pada kondisi pasar dan perekonomian kita, apakah sedang kondisi krisis, normal atau booming.
Jangan kaget pula, jika di tengah jalan ingin berhenti, maka akan mendapat penalti dan bisa jadi uang gosong tak ada yang balik sepeserpun. Jangan kecewa.
- Misal ada yang menawarkan, bayar asuransi hanya selama 10 tahun pertama, selanjutnya gratis. Perlu digarisbawahi, itu bukan murni gratis. Itu diambil dari nilai investasi yang sudah kita tanamkan tersebut, untuk membayar premi setiap bulannya. Dan jika nilai investasi tersebut kurang, ada kemungkinan kita akan dimintai untuk membayar kekurangannya tersebut.

 

Untuk asuransi pendidikan, perlu diperhatikan :
- Adalah salah kaprah jika di polis, dicantumkan anak mendapatkan fasilitas asuransi jiwa. Itu gak penting!! Itu artinya, jika si anak meninggal, keluarga yang dapat klaim dan santunan asuransi.
Asuransi jiwa akan lebih efektif jika diberikan pada si pemberi nafkah dalam keluarga. Misal Pak A yang mencari nafkah, maka Pak A perlu diasuransi jiwa, karena jika Pak A meninggal, asuransi akan memberikan dana sebagaimana kesepakatan awal untuk keluarga Pak A, agar keluarga tidak kolaps keuangannya untuk sementara waktu.  
-  Asuransi jiwa yang ada tabungannya yang bisa dipakai untuk dana pendidikan, dikeluarkannya disesuaikan berapa tahun dibutuhkan ketika anak akan masuk sekolah/naik kelas/mendaftar sekolah baru.
Nah, perlu diperhatikan, keluarnya dana tersebut, sesuai bulan dimana kita membuka asuransi. Jangan sampai kita berhutang/mengalangi dana terlebih dahulu, akibat pencairannya yang tak sesuai dengan waktu anak sekolah.
Contoh: kita membuka polis pada bulan September, anak berumur 4 tahun, ingin digunakan ketika anak umur 7 tahun, sekitar 3 tahun kemudian. Nah, dana akan keluar pada bulan September tahun ketiga, bukan pada bulan Juli ketika masa2 kenaikan kelas/masuk sekolah. Kalau kondisi seperti itu, maka yang perlu dipertimbangkan: akan mengambil dana di tahun kedua / mengambil dana di tahun ketiga namun pada bulan Juli kita menalangi uang terlebih dahulu.
- return dari asuransi pendidikan hampir setara deposito, sehingga kurang memberikan nilai return yang memuaskan.

Dicukupkan segini saja report saya. Semoga dapat memberi manfaat dan tambahan wawasan =) Setiap keluarga memiliki seni masing2 dalam mengelola keuangan, juga dalam mengambil keputusan. Hanya diharapkan, selalu mengakai rasionalitas dalam berkeputusan, sehingga tak akan kecewa di kemudian hari.

 

Last but not least, instrumen investasi yang oke ialah melindungi diri, harta dan financial kita dengan bersedekah. Selalu usahakan untuk membiasakan bersedekah, dalam keadaan lapang maupun sempit. Insya Allah, kita selalu diberikan kemudahan dalam hidup maupun terhindarkan dari musibah. “Tameng” yang kedua ialah dana cadangan, sehingga jika terjadi suatu hal secara tiba2, kita masih ada kesiapan untuk menghadapinya, dari segi finansial. Dan perlindungan yang ketiga ialah dengan berinvestasi, baik berupa investasi dana/asuransi. Karena bagaimanapun masa depan kita tak pernah tahu. Dan hidup tak melulu datar, ada cobaan, ada ujian, ada musibah. Semoga kita selalu siap menghadapi semuanya, baik dari segi mental, spiritual maupun finansial ^___^

So,, Lets Planning for Our Life!!! :D

Mengelola Keuangan Scara Bijaksana (^o^)b



Karena weekend kemarin gagal pulang ke Magelang lantara kehabisan tiket kereta dan bus, akhirnya saia galau luntang lantung di kosan. Serasa sangat lama menghabiskan liburan dua hari hanya sendirian di Jakarta. Akhirnya pelampiasannya ialah mengikuti semua acara yang ada di kampus yang diadakan kemarin Sabtu dan Ahad. Wkwkwk..

Kebimbangan terjadi ketika hari Ahad ada dua acara, sama2 menariknya. Yang satu, di Masjid Bintaro Raya, pengajian yang diisi oleh Aa’ Gym dan Ustad Yusuf Mansyur.  Yang kedua, acara kampus penyambutan jamaah baru MBM, diisi oleh Mas Salim Darmadi dan Pak Ahmad Gozali, seorang financial planner. Tapi akhirnya, karena di tengah sarapan ketemu mas Fery, terbujuklah saia menghadiri pertemuan MBM hehhe.. *alesannya: males ke Masjid Raya Bintaro, ga ada temen, n masih nyari2 dimana masjidnyahh,, :p hadeeuuhh...saia ga banget yakk.. >.<

Nah disini saia hanya mau sharing report aja tentang kajian MBM, terutama mengenai financial planning yang disampaikan oleh Pak Ahmad Gozali. Siapa tahu bermanfaat dan menambah ilmu kita. Yang kadang, kita telah menerapkan semua penjelasan beliau. Saia pun kaget ternyata dengan naluri manajemen keuangan saia sendiri, saia sudah 85% menjalankan semua tips keuangan beliau. Yuk disimak lebih lanjut.. =) *Saia hanya menuliskan poinnya saja yaa,...secara garis besar.

Who is Mr. Ahmad Gozali?
Woohoo..di awal perkenalan, ternyata gak nyangka jika ternyata Ahmad Gozali merupakan alumni STAN. Tepatnya, STAN angkatan 1998. Tapi pada akhirnya, di tengah beliau bekerja, akhirnya memutuskan keluar PNS karena bukan passionnya dan akhirnya kini bekerja sbg konsultan keuangan di Safir Senduk dan rekan. Ia sudah menelurkan beberapa buku tentang mengelola keuangan, diantaranya yang terakhir ialah Aisyah Ma’isyah dan Habiskan Saja Gajimu.

Disiplin Mengelola Gaji
Beliau menekankan untuk disiplin dalam pengeluaran. Kebanyakan keluarga ketika menerima gaji, mereka mengeluarkan ke pos2 pengeluaran yang sudah ditentukan. Dan jika di akhir bulan ada sisa, maka sisanya ialah untuk ditabung. Itu adalah salah kaprah. Kita harus mengubah mindset dan cara kelola. Bahwa tabungan itu bukan dari “sisa” gaji di akhir bulan, namun harus ditabung di awal terima gaji, baru sisanya dialokasikan ke pos2 anggaran lain. Akan lebih baik jika rekening khusus untuk menabung itu dipisahkan dari rekening untuk belanja/pengeluaran. :) *Yup, yg ini udah dijalankan.. ^_^

Kurang Latte Factor
Apa sih Latte factor itu? Pertama kali dengar kata Latte, langsung mengingatkan saia pada kopi. Memang, istilah ini diperkenalkan oleh David Bach, penulis buku mengenai personal finance. Istilah ini diambil dari kebiasaan orang Amrik yang setiap pagi selalu berangkat ke kantor/sekolah, selalu membeli kopi di gerai kopi, seperti St**bucks contohnya :p Padahal jika kebiasaan ini dihilangkan, atau misal, kita cari alternatif lain seperti membuat kopi sendiri, kita bisa menghemat uang yang cukup banyak. Beli di gerai kopi bisa menghabiskan minimal 20ribu, buat sendiri maksimal 3ribu, dengan rasa yang..yaa..tak jauh beda. :p

Pokoknya pengeluaran yang “remeh-temeh” yang kurang penting, bisa dihindari/diminimalisir/dicari subtitusi yang lebih hemat. Nah, kita cari tahu masing2, ada gak sih Latte Factor di diri kita? Misal, suka beli minuman kemasan (mineral, teh, softdrink), atau suka beli es krim, rokok, dll. *Saia sih sampe skarang belum nemuin di diri saia, lha beli2 jarang. Tapi kebiasaan saia, sekali belanja kebutuhan setahun sekali, harga sangat murah dr pasaran sih, tapi sekalinya beli buanyaakk, ahahah..buat persediaan setahun, ex: baju anak :p yg ini bukan faktor latte namanya. ^_^

Kebutuhan vs Keinginan
Benar2 harus memilah, mana kebutuhan kita, dan mana kebutuhan yang hanya berdasarkan keinginan. Kalau perlu dibuat kuadran: penting, prioritas,  kurang penting, dan kurang prioritas. Dan penentuannya harus berdasar pemikiran jernih, bukan pemikiran yang diliputi hasrat.

Nahh kalau yang ini memang cukup susah yah.. :) Kadang kita kalau sudah atas nama hobi, suka, demen, maunya yang itu dan harus itu, membawa nama gengsi, maunya merk yang branded, yaa..susah. Hehehe.. Penyuka fotografi, bisa sampai menghabiskan belasan hingga puluhan juta untuk membeli kamera, lensa2, tripod, dkk. Penyuka moge (motor gede) juga maunya ya harus motor gede, gengsi donk masak pakai motor bebek >.< Atauu,,kebiasaan cewek pada umumnya, yang sudah ngiler dan mupeng kalau melihat barang lucu, unik, nyentrik, aneka fashion etc. *untungnya saia termasuk cewek pada khususnya, wkwkwk

Diilustrasikan oleh Ahmad Gozali suatu contoh: ada tiga pilihan à motor bebek, motor bebek kopling sekelas satria, motor cowok yang keren. Dari ketiganya, memiliki fungsi, kelebihan dan kekurangan yang mirip : sama2 cuma bisa dinaiki dua orang; sama2 tak bisa melindungi dari panas maupun hujan; mirip dalam pengeluaran bensin untuk satu liternya. Mungkin perbedaannya hanyalah pada performa dan kestabilan ketika ngebut/jalan jauh antar kota. Naahh,,namun kadang sebagian lelaki (apalagi yg bertampang pas2an,heheh *piss) lebih memilih motor cowok: keliatan keren, macho, menang gengsi. Padahal kebutuhan mereka hanya untuk muter dalam kota, itupun ddengan jalanan yang kadang macet. ^^

Jadi secara akuntansi, kita jurnal:
Motor                   12juta
Gengsi                  10juta
                Cash                      22juta

Huehehe,, beginilah mahasiswa akuntansi tulen,, kasih contoh pakai jurnal segala :p Hanya mengilustrasikan, bahwa harga “sebenarnya” motor ialah 12juta, dengan membawa harga gengsi sebesar 10juta.

Satu quote yang menarik dari dulu ngena banget buat saya: Menjadi kaya itu memang penting. Namun terlihat kaya itu tidak penting. Ya,, kadang orang sibuk memoles diri dan kepunyaannya agar terlihat kaya, dipandang dan menaikkan status sosialnya. Namun kadang di balik itu semua, orang jungkir balik kerja keras untuk membiayai gaya hidupnya tersebut. Jadilah orang yang sederhana, itu akan lebih membahagiakan. =)

>> Sambung ke part dua ya, biar gak kepanjangan.

Tuesday, 25 December 2012

Sekelumit Tentang Investasi Tanah.. *Berdasar Pengalaman Pribadi


Ngapain hari gini ngomongin investasi? Sudah banyak yang ngomongin juga. Tapi saia hanya berdasar pengalaman aja sih, hehehe. Saia mau ngobrolin tentang investasi tanah. Masih ingat kan kalau pada jaman dulu orang yang banyak tanah di sebut juragan tanah… dan itu identik dengan orang kaya, dimana dia menguasai sebagian besar area tanah di sebuah daerah.
Mengapa tanah? Alasannya adalah penduduk bumi bertambah sementara lahan tidak pernah bertambah. Cukup Jelas kan?  Dengan demikian permintaan akan lahan lebih besar daripada ketersediaan lahan. Jika Demand > Supply tentunya harga akan naik…. Sehingga menaruh investasi di Tanah tidak akan pernah rugi. Juga misal ada (maaf) bencana gempa bumi. Bangunan sudah runtuh, tetapi tanah masih tetap ada utuh. Itu alasan yang jika diungkap secara sederhana kurang lebih seperti itu lah. *Kecuali kalau tanah longsor, bencana “lumpur” seperti di Porong,Sidoarjo; dll ya..itu pengecualian.. : )
Akhirnya kami pun kemarin berniat untuk membeli tanah. Yaahh tidak jauh2 dari kampung halaman: di Yogyakarta bagian selatan (baca: Bantul,hehe..). Kecil memang dan juga agak jauh dari jalan raya. Ya,,sesuai kantong kami lah. Cari harga yang miring, kalau bisa tengkurep. Hihii... Tak ada salahnya. Alhamdulillah pula, tanpa berhutang. Berikut beberapa alasan, mengapa kita harus berinvestasi, terutama di investasi tanah:
·      Kebutuhan akan tempat tinggal terus meningkat dan itu berarti diperlukan lahan/tanah. Artinya selalu ada kebutuhan akan ketersediaan lahan dan hal tersebut menciptakan adanya pasar.
·      Kenaikan harga tanah cenderung lebih tinggi dari inflasi. Di sebuah daerah yang cukup berkembang bisa terjadi kenaikan 40% per tahun masih dianggap wajar. Apalagi kalau daerah tersebut strategis. Untuk daerah Bantul, sebenarnya harganya tak setinggi di kota Jogja. Perkembangannya pun sangat lambat. Namun, menurut hemat saya, namanya investasi, don’t put your egg into one basket, jadi kami diferensiasi daerah. Jogja dan Sleman sudah ada. Kini giliran Bantul. : )
·      Tidak perlu ada biaya perawatan seperti jika memiliki bangunan/rumah. Kalau toh ada biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan tanah, kemungkinan nilainya jauh lebih kecil dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh atas kenaikan harga tanah. Apalagi jika tanah tersebut “didiamkan”, tidak dijual dalam jangka waktu yang lama. Kenaikan bakal lebih besar pastinya.
·      Jika lahan yang dibeli adalah kebun, sawah atau lahan yang bisa dimanfaatkan, maka bisa diambil hasilnya. Apalgi jika mempekerjakan orang untuk menggarap lahan tersebut. Wah kita bisa menciptakan lapangan kerja juga. Mencukupi kebutuhan pangan keluarga dan sisanya untuk dijual. Seperti teman saya, yang menanam padi di tanah yang ia beli. ^^
·      Terlebih bagi kami, yang tinggal di Sumatera namun membeli tanah di Jawa. Akan lebih baik membeli tanah saja. Toh jika membeli properti/rumah, nantinya akan mubadzir karena kami tak bisa meninggalinya. Mungkin hanya bisa dikontrakkan. Returnnya sedikit, dibandingkan biaya yang dikeluarkan. Atau semacam kos-kosan; jika memiliki banyak kamar dan lahan yang luas untuk parkir motor/mobil yang menyewa kos tsb.
Hanya saja investasi di tanah bisa dibilang merupakan investasi yang tidak memberikan hasil atau return. Kecuali jika kita bisa memanfaatkan lahan tersebut. Dan itu sama saja dengan aset pasif. Tentunya kita lebih mengharapkan jika suatu aset bisa memberikan hasil disamping juga keuntungan dari selisih harga.
Likuiditas dari investasi ini juga sangat rendah. Tentunya kita harus punya dana cadangan jika ada keadaan darurat. Tidak seperti logam mulia yang bisa langsung kita jual pada saat kita membutuhkan. Atau Reksadana yang hanya butuh beberapa hari saja untuk mencairkan. Sehingga, tentukan mana investasi yang kita butuhkan sesuai dengan kemampuan dan tujuan kita.
Kenaikan harganya pun tidak bisa langsung dirasakan dalam jangka waktu pendek. Paling tidak setelah 3 tahun ke atas keuntungan dari kenaikan harga bisa menutupi biaya-biaya pada saat pembelian dan penjualan tanah. Dengan begitu keuntungan dalam investasi ini baru bisa dirasakan dalam jangka waktu panjang. Biaya yang dikeluarkan antara lain: biaya notaris dan biaya BPHTB (untuk nilai >60juta).

Aset tanah tanpa bangunan tidak bisa dipakai untuk pengajuan kredit ke Bank, kecuali jika di atas tanah tersebut hendak dibangun rumah, kantor yang disewakan, hotel, pabrik dll. Maka itu bisa jadi pembiayaan bank berupa kredit konstruksi . Tapi jika hanya tanah biasa tanpa peruntukan, tidak bisa sebagai jaminan pengajuan kredit. **IMHO yaa.. :) Kalau ada ralat, monggo, saia hanya pernah tanyakan hal ini ke salah satu bank saja. Mungkin di bank yang berbeda, punya kebijakan yang lain. ^^

Ada pula beberapa hal yang harus diperhatikan jika ingin berinvestasi tanah:
LOKASI. Ini adalah aspek utama yang harus dipertimbangkan pada saat kita hendak membeli tanah sebagai aset investasi. Memilih daerah mana yang ingin dituju. Jeli dalam memilih daerah mana yang akan berkembang dan yang masih mempunyai potensi menjadi favorit orang dalam bisnis jual beli tanah/properti. Mengenai peruntukan tanah bisa ditanyakan ke Dinas Tata Kota setempat. Juga misal tanah tersebut, ke depannya apakah untuk tempat tinggal atau tempat kos. Kalau untuk tempat kos, carilah daerah strategis dekat kampus/sekolah. Jika untuk tempat tinggal, cari daerah yang aman, nyaman dan sejuk untuk dihuni. Semua kembali ke selera dan tujuan masing2.
ASPEK LEGALITAS. Ini sangat penting dan paling penting. Pastikan bahwa dokumen tanah lengkap dan jelas. Seperti Sertifikat (SHM/ HGB), Bukti Pembayaran PBB, Identitas pemilik tanah, Gambar Situasi (GS) atau surat ukur, Batas-batas lokasi dan sebagainya. Betul-betul dipastikan bahwa tanah dalam keadaan bebas sengketa atau tidak sedang dijaminkan kepada pihak lain atau tidak sedang dalam kasus hukum lainnya. Tanyakan ke pemilik, alasan tanah tersebut dijual.
INFORMASI PERKEMBANGAN LOKASI. Ini opsional sih. Kami hanya mencari tanah yang dekat dengan kantor kami di Jogja, apabila suatu saat nanti mutasi di kota ini. *Amin, semoga disegerakan sama Allah.. :’) Kita bisa mengumpulkan info perkembangan lokasi tsb dari beberapa broker atau pengembang di sekitar situ, mengali informasi dari penduduk sekitar atau dari RT/RW/kelurahan setempat. Dan yang jelas kita juga harus meninjau lokasi secara langsung agar tahu persis kondisi dan letaknya.
JANGKA WAKTU INVESTASI. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa keuntungan dalam berinvestasi di tanah kemungkinan kecil bisa diperoleh dalam jangka pendek. Untuk itu dana yang digunakan dalam investasi ini sebaiknya adalah dana yang memang tidak akan diperlukan dalam 2-3 tahun ke depan. Dan kita harus menyiapkan dana cadangan lain untuk keadaan darurat. Intinya kita harus sabar dan tidak terburu-buru ingin mendapatkan keuntungan besar jika berinvestasi di sini. Kalau untuk saya pribadi, saya membeli tanah itu untuk proteksi nilai mata uang saya. Bukan untuk berinvestasi, karena tanah yg dimiliki juga tak ada keinginan untuk menjualnya kembali. Namun, jika suatu saat butuh dana yang segera dan mendesak, barulah tanah ini akan dijual kembali.

Mungkin segini dulu aja ya ulasan dari saya. Apabila kurang lengkap, ya mengingat keterbatasan saia dalam menulis, belum begitu berpengalaman di bidang ini dan hanya berdasarkan pengalaman dan pemikiran pribadi. Tetapi semoga membawa manfaat dan pemahaman lebih bagi yang membaca.. :D See ya in other articels.. ^^
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...